Air Susu Dibalas Air Tuba

Advertisement

Air Susu Dibalas Air Tuba

Rabu, 22 November 2017

Air Susu Dibalas Air Tuba

رَحِمَ اللهُ مَنْ أَهْدَى إِلَيّ عُيُوْبِيْ
“Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya untuk setiap orang yang menunjukkan cacat celaku. ”
Begitulah kurang lebihnya arti kata-kata bijak di atas. Siapakah yang bertutur demikian? Beberapa referensi menyebut sejumlah nama besar dan mulia, antara lain sahabat Umar bin al-Khaththab, Sa’id bin Jubair, Umar bin Abdul Aziz, dan Mis’ar bin Kidam. Oleh sebab itu, kata-kata bijak tersebut patut direnungkan baik-baik.
Bagaimana menilai nashihin (seseorang yang menyampaikan nasihat) sangatlah urgen untuk menentukan sikap selanjutnya. Apa yang kita pikirkan tentang nashihin? Mengacu pada kata-kata bijak di atas, mestinya seorang muslim yang baik akan merasa senang dan terhormat ketika nashihin menyampaikan nasihatnya. Lebih-lebih lagi jika nasihat yang disampaikan adalah untuk kebaikan dan perbaikan aqidah, ibadah, dan manhaj kita. Mestinya, nashihin menjadi orang yang paling kita cintai.
Seorang yang ikhlas justru merasa senang dan bahagia apabila ada pihak-pihak yang menunjukkan di manakah letak kesalahan dan kekurangannya. Ia tidak tersinggung, marah, atau merasa terdzalimi. Bukan demikian Salaf mengajarkan! Justru Salaf meneladankan untuk memuliakan dan menghormati pihak-pihak yang menunjukkan di manakah letak kesalahan dan kekurangan kita.
Adz Dzahabi (_Siyar A’lam Nubala_ 7/37) menerangkan, “Tanda seorang hamba yang ikhlas, yang terkadang menginginkan popularitas tanpa ia sadari, adalah ketika ditegur ia tidak merasa tidak memiliki keinginan tersebut (popularitas) atau berusaha menyangkal. Akan tetapi, ia mengakuinya dan menyatakan, ‘Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk setiap orang yang menunjukkan cacat celaku.’ Ia tidak boleh ujub pada dirinya sendiri. Jangan sampai ia tidak sadar dengan cacat-celanya. Bahkan, jangan sampai ia tidak mengakui bahwa dirinya memang menyadari cacat-celanya.”
Jika ada nashihin menyampaikan nasihat kepadamu lalu menunjukkan cacat-cela yang ada pada dirimu, terimalah! Berpikirlah bahwa ia menginginkan kebaikan untukmu. Yakinlah ia sedang membuktikan dirinya sebagai sahabat yang baik. Berhusnu-dzan lah bahwa ia tidak membenci atau hasad kepadamu! Sayangi dan cintailah ia karena dia benar-benar seorang sahabat sejati.
oooooo
Jangan meniru kaum Tsamud tanpa sadar! Tsamud adalah kabilah besar dan terkenal. Negeri mereka disebut Al-Hijr yang terletak antara Hijaz dan Tabuk. Nabi Shalih diutus Allah kepada mereka guna mengajak beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Namun, apa yang dialami oleh Nabi Shalih? Mayoritas kaum Tsamud menolak dan menentang. Bahkan, mereka berusaha untuk membunuh Nabi Shalih, walaupun gagal. Akhirnya, Allah hancurkan mereka.
Di dalam surat Al-A’raf ayat 79, Nabi Shalih mengatakan,
يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لاَ تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ
_“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.”_
Oh, inilah alasannya! *Tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.* Engkau membenci nashihin.
Jika pada dasarnya tidak suka nasihat, tidak senang jika kesalahannya diluruskan, akan ada sejuta cara untuk menolaknya. Bukankah hawa nafsu menghembuskan demikian? Saat nasihat diberikan, dikatakan intervensi. Ketika nasihat disampaikan, disebut menerapkan sistem komando. Bila nasihat dihaturkan, katanya aturan-aturan hizbiyyah. Waktu nasihat diuraikan, malah dituduh memposisikan diri sebagai layaknya penguasa, amir atau amirul mukminin. Allahul musta’an. Lantas apakah nasihat itu mesti ditiadakan?
Sikap tidak sportif dan tidak adil lalu muncul. Ia malah menuduh nashihin telah hasad atau _hubbur riyaasah_ (ambisi pada kepemimpinan). Bahkan, ia justru mulai mencari-cari kesalahan nashihin. Mengungkit-ungkit masa lalunya. Seolah ia hendak mengatakan, kalau saya salah, kamu pun banyak salahnya. Astaghfirullah. Lantas haruskah nasihat itu tidak dijalankan?
Lebih parah lagi, seseorang menemui dan meminta nasihat dari nashihin. Setelah memberi nasihat, menyampaikan pandangan dan saran, justru nashihin dituduh dengan keji telah mencampuri urusan orang lain, atau dituduh intervensi di “rumah tangga” orang. Apakah masuk akal jika engkau mempercayai seseorang supaya memberi nasihat kepadamu, lalu setelah dia memberikan nasihat kepadamu, engkau tuduh dia dengan tuduhan-tuduhan keji? Air susu dibalas dengan air tuba.
Kembali teringat ucapan Nabi Shalih,
وَلَكِنْ لاَ تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ
_“Namun, kamu tidak suka kepada nashihin (orang-orang yang memberi nasihat).”_
oooooo
Menggerakkan roda dakwah Salafiyah sangat memerlukan kaum nashihin, yakni Asatidzah yang bersemangat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Asatidzah yang tidak mengenal lelah dalam memberikan nasihat. Ingat! Amar ma’ruf nahi mungkar tidak dibatasi oleh wilayah. Nasihat yang disampaikan tidaklah disekat-sekat dengan daerah. Selama itu kebaikan, harus disuarakan. Asalkan itu sebuah kemungkaran, cegahlah. Apabila ada nasihat, sampaikanlah! Meskipun berbeda daerah, walaupun tak sama wilayah.
Apakah hal ini akan disebut dengan nada negatif sebagai bentuk intervensi? Tentu bukan! Alhamdulillah, Asatidzah beberapa waktu lalu telah berumroh dan berkunjung menemui para ulama guna memohon bimbingan. Jawabannya jelas. Arahannya pun tegas.
Syaikh Ubaid Al-Jabiri menilainya sebagai sebuah kemestian dalam berta’awun dan tidak menilainya sebagai sesuatu yang salah atau dakwah komando.
Syaikh Abdullah Al-Bukhari menghukuminya sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar.
Bahkan, Syaikh Abdullah bin Shalfiq berkenan untuk menulis tangan tentang pembenaran atas upaya yang dilakukan oleh Asatidzah selama ini dalam berdakwah.
Adapun Syaikh Rabi’ bin Hadi, maka ibarat terangnya matahari di siang hari. Beliau merupakan contoh dan teladan kita dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Beliau mengajarkan kepada kita untuk bersemangat dalam menyampaikan nasihat.
Dengan demikian, apa alasannya membenci dan memusuhi kaum nashihin? Kaum nashihin, yakni Asatidzah yang berjalan dan menjalankan dakwah dengan mengikuti bimbingan serta arahan para ulama, apakah layak untuk dibenci dan dituduh dengan tuduhan-tuduhan keji? Semestinya kita bersyukur kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada mereka yang telah berjuang untuk menegakkan kemurnian dakwah dengan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Jangan seperti air susu dibalas dengan air tuba. Saat diberi nasihat, malah berpikir buruk. Ketika ditegur, menganggapnya hasad. Apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji. Namimah dilakukan, adu domba diupayakan. Mencari-cari fatwa ulama untuk disalahgunakan dan ditabrakkan satu sama lain. Parahnya lagi adalah berhimpun dan bergabung dengan orang-orang berperangai buruk, padahal ia betul-betul mengetahui keburukannya. Apakah hanya demi menolak nasihat, orang-orang berperangai buruk dalam manhaj pun dijadikan kawan seperjuangan?
oooooo
Saya pribadi telah merasakan sejuk segarnya nasihat kaum nashihin di zaman ini. Alhamdulillah dan segala puji hanyalah milik Allah semata. Saya harus menyebut nama-nama nashihin tersebut sebagai wujud rasa syukur kepada Allah, yaitu Ustadz Muhammad Umar As-Sewed, Ustadz Usamah Mahri, Ustadz Qomar Suaidi, Ustadz Ayip Syafruddin, dan Asatidzah di Jogja yaitu Ustadz Syafruddin, Ustadz Abdul Jabbar, Ustadz Abdul Haq, dan Ustadz Abu Ishaq. _Khususon wa bil khusus_ adalah guru saya dan ustadz saya, Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh.
Tidak hanya sekali dua kali, bahkan sudah sekian banyak saya memperoleh nasihat dari kaum nashihin di atas. Terlebih Ustadz Luqman Baabduh yang beberapa kali memberi nasihat kepada saya secara empat mata. Tenang, sejuk, teduh, layaknya seorang ayah. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan yang terbaik.
Marilah mewujudkan pesan Salaf dengan mendoakan kebaikan untuk kaum nashihin, yang tidak kenal lelah memberikan nasihat serta menunjukkan di manakah letak kesalahan dan kekurangan kita. Supaya kita bisa berbenah diri. Bukan malah menyematkan tuduhan-tuduhan keji kepada mereka atau mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan apalagi sampai mengorbankan kemuliaan dakwah Salafiyah.
Lendah, Kulonprogo
3 Rabi’ul Awwal 1439 H (22 November 2017 M)
Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

covid-19

COVID-19

Dapatkan informasi terbaru tentang Virus Corona COVID-19 di Indonesia.
Learn more
Dismiss